Another assignment from Theoretical Studies V...
Dalam hal apapun dapat menimbulkan berbagai pandangan. Begitu pula dengan sejarah. Ada dua pandangan filsuf tentang sejarah yang bertolak belakang yaitu teori Georg Hegel dan teori Nietzche. George Hegel berpendapat bahwa sejarah merupakan sesuatu yang bersifat dialektik atau berkesinambungan, sebab-akibat yang prosesnya berurut dari thesis, antithesis, dan berakhir pada synthesis (kebenaran yang sejati). Adapun Nietzche berpendapat bahwa sejarah akan selalu berulang, alurnya seperti tornado yang berputar-putar. Everything becomes and recurs eternally - escape is impossible! - Supposing we could judge value, what follows? The idea of recurrence as a selective principle, in the service of strength (and barbarism!!)...(The Will to Power by Friedrich Nietzche).
Tidak ada yang salah dengan kedua filosofi tersebut. Akan tetapi, teori yang paling mendekati kenyataan ialah teori sirkulerisme sejarah. Sejarah akan selalu berulang. Memang tidak akan sama persis karena perubahan zaman, perbedaan situasi dan juga kondisi. Sejarah pasti akan berulang tetapi mengalami penyesuaian. Permasalahan dasarnya tetap sama tetapi cakupan dan bobotnya lebih luas serta lebih berat seperti halnya dengan masalah kudeta, pelanggaran HAM, perang saudara, dan perang antar agama yang sudah sering terjadi sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Teori Hegelpun tidak dapat dibantah secara total. Sejarah dapat terjadi jika ada sebuah pembantahan terhadap sesuatu dan diakhiri dengan penyelesaian yang akhirnya menjadi sejarah itu sendiri, tetapi hal tersebut juga terus menerus berulang dan akhirnya berujung pada teori Nietzche.
Sejarah itu sirkuler. Oleh karena itu, setiap orang harus belajar sejarah dan belajar dari sejarah. Sesuatu yang terjadi di masa lalu dapat terjadi kembali di masa yang akan datang maka antisipasi harus dilakukan agar tidak terjebak dalam kesalahan yang sama.
